Suprapto: masa muda, karir militer dan akhir hayat

Letnan Jenderal TNI R Suprapto Anumerta adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Purwokerto. Ia adalah orang yang ikut berperang dan berhasil menyita senjata pasukan Jepang di Cilacap pada awal kemerdekaan. Suprapto-masa-muda-karir-militer-dan-akhir-hayat

Suprapto juga menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto.

Letnan Jenderal Suprapto anumerta adalah salah satu korban G30S yang dilempar ke Lubang Buaya. Baca juga: Dr. Moewardi: Hidupnya, Perjuangannya dan Jasanya anak muda Letnan Jenderal TNI R Suprapto Anumerta, atau yang biasa dipanggil Suprapto, lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah.

Lingkungan tempat ia dibesarkan dipenuhi dengan suasana religius yang mempengaruhi karakter Suprapto.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda. email pendaftaran Ajaran agama yang diterimanya membuat Suprapto menjadi pribadi yang lembut dan tenang. Kelembutan ini juga didukung oleh bakat seninya. Suprapto sendiri merupakan anak terakhir dari 10 bersaudara. Suprapto memulai pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar pada masa Hindia Timur Belanda di Purwokerto.

Setelah lulus dari HIS, ia melanjutkan pelatihannya di MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs

(Tingkat SMP). Setelah lulus dari MULO, ia melanjutkan ke AMS (Tingkat Sekolah Menengah Atas) di Yogyakarta dan lulus pada tahun 1941. Pada tahun yang sama pemerintah Hindia Belanda-Belanda membentuk milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia II. Pada titik ini, Suprapto mulai membenamkan dirinya dalam pelatihan militer. Baca juga: Fachruddin: Kehidupan, Laju Politik dan Kontribusi di Bidang Agama organisasi Ia bergabung dengan Akademi Militer Kerajaan di Bandung. Namun, Suprapto tidak dapat menyelesaikan pelatihan militernya karena Jepang telah menduduki Indonesia. Suprapto ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang. Namun, ia berhasil melarikan diri dari pusat penahanan. Setelah berhasil kabur, Suprapto kembali ke kampung halamannya di Purwokerto. Di sana ia juga menghadiri Cuo Seinen Kunrensyo atau Pusat Pelatihan Pemuda. Suprapto tertarik dengan isu-isu sosial, terutama yang berkaitan dengan pemuda. Dalam kegiatan sosial inilah Suprapto bertemu dengan Sudirman muda, seorang tokoh muda. Keduanya memiliki pemikiran yang sama dalam mempromosikan kaum muda. Suprapto dan Sudirman juga mencurahkan tenaga mereka pada bidang yang sama. Selain mengikuti kegiatan sosial, Suprapto juga mengikuti senam kepemudaan lainnya seperti Keibodan, Seindan dan Suisyintai. Ketiga hal tersebut merupakan organisasi yang didirikan oleh Jepang. Baca juga: Albertus Soegijapranata: Pendidikan, Penggembalaan dan Akhir Hidupnya Pertempuran Ambarawa Pada awal kemerdekaan, Suprapto merupakan salah satu pejuang yang berhasil menyita senjata pasukan Jepang di Cilacap. Ia kemudian bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto. Karena kemampuannya yang dinilai cukup baik, Suprapto dipercayakan sebagai kepala Divisi II Divisi V dan mendapat pangkat kapten. Divisi V dipimpin oleh Kolonel Sudirman, sosok yang dikenalnya sejak zaman Jepang. 12.-15. Desember 1945 Pertempuran Ambarawa terjadi. Selama perang ini, Suprapto menemani Panglima Divisi V. Peristiwa itu bermula dari pertempuran di Magelang, tempat didudukinya benteng Banyubiru. Akhir dari pertempuran ini adalah jatuhnya Benteng Willem I di Ambarawa ke tangan TKR. TKR telah berhasil mengungguli Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang memiliki persenjataan lengkap. Pasukan Union dipukul mundur hingga akhirnya melarikan diri ke Semarang.   LIHAT JUGA : https://indi4.id/ https://connectindonesia.id/ https://nahdlatululama.id/ https://www.bankjabarbanten.co.id/ https://ipc-hm2020.id/ https://sinergimahadataui.id/